PALANGKA RAYA, SPN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut cuaca yang terasa semakin terik di Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dipengaruhi musim kemarau, minimnya tutupan awan, serta fenomena El Nino yang memperpanjang musim kering tahun ini.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani, mengatakan berkurangnya tutupan awan membuat intensitas sinar matahari yang mencapai permukaan bumi semakin maksimal sehingga suhu udara terasa lebih panas, terutama pada siang hingga sore hari.
Menurutnya, suhu maksimum selama Juli masih berada pada kisaran normal, yakni 33–35 derajat Celsius, namun dalam kondisi tertentu dapat mencapai sekitar 36 derajat Celsius. Kondisi cuaca panas diperkirakan berlangsung hingga musim kemarau berakhir pada Oktober–November 2026.
“Suhu maksimum yang kami amati masih berada dalam kisaran normal untuk bulan Juli. Namun masyarakat tetap akan merasakan cuaca lebih terik karena minimnya tutupan awan dan kelembapan udara yang menurun. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga musim kemarau berakhir sekitar Oktober sampai November,” katanya.
Selain meningkatkan suhu udara, kemarau yang berkepanjangan juga menyebabkan curah hujan menurun sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah semakin tinggi. Sejumlah wilayah bahkan mulai dilaporkan mengalami kebakaran yang memunculkan kabut asap dan berpotensi menurunkan kualitas udara.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tetap menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, menggunakan masker saat kualitas udara menurun, dan rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. (bp)










Comment