PALANGKA RAYA – Upaya menjaga keberlanjutan kerajinan rotan sekaligus mendorong regenerasi pengrajin terus dilakukan Magister Pendidikan Ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR). Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), generasi muda dibekali keterampilan menganyam rotan berbasis kearifan lokal Kalimantan Tengah.
Kegiatan bertajuk Pelatihan Dasar Menganyam Rotan bagi Generasi Muda Berbasis Local Wisdom tersebut dilaksanakan bersama Pusat Kerajinan Rotan Jawet Bersama, Kabupaten Pulang Pisau.
Tim PkM diketuai Prof. Dr. Tonich Uda, M.Si, dengan anggota Dr. Sri Rohaetin, M.Si, Dr. Rinto Alexandro, S.E., M.M, Dr. Eriawaty, M.Pd, M. Sahlani Budi, S.Pd, dan Lisa Fitri, S.Pd.
Prof. Tonich Uda mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong regenerasi pengrajin sekaligus mempertahankan pengetahuan tradisional yang diwariskan antargenerasi. Menurutnya, rotan tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan baku kerajinan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi dan nilai budaya yang penting bagi masyarakat Kalimantan Tengah. “Regenerasi menjadi hal penting. Jangan sampai keterampilan menganyam, motif, teknik, dan nilai budaya yang dimiliki para pengrajin senior berhenti pada satu generasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar pengrajin aktif saat ini telah berusia di atas 40 tahun. Sementara minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan tersebut masih relatif rendah. Karena itu, pelatihan diarahkan tidak sekadar mengajarkan teknik menganyam, tetapi juga memperkenalkan peluang kewirausahaan, perhitungan biaya produksi, penentuan harga, pengemasan hingga pemasaran digital.
Dr. Sri Rohaetin, M.Si, menambahkan, pendekatan pembelajaran dalam kegiatan tersebut menempatkan peserta sebagai bagian aktif melalui metode learning by doing. Peserta yang terdiri atas petani muda di Kelurahan Sabaru, Kecamatan Sebangau, dan mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai potensi ekonomi rotan, local wisdom, pelestarian budaya serta karakteristik bahan. Selanjutnya mereka mengikuti demonstrasi langsung dari pengrajin Pusat Kerajinan Rotan Jawet Bersama sebelum mempraktikkan teknik dasar anyaman. “Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui secara teori, tetapi mengalami langsung prosesnya. Dari memilih bahan, membuat pola, menganyam hingga menghasilkan produk sederhana,” katanya.
Menurut Sri, respons peserta selama pelatihan cukup positif. Sebagian besar peserta mampu mengenali karakteristik bahan, menggunakan peralatan dengan benar, menerapkan teknik dasar anyaman dan menghasilkan produk sederhana. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai filosofi motif serta pentingnya menjaga identitas budaya daerah. Keterlibatan pengrajin senior dinilai menjadi bagian penting dalam proses transfer pengetahuan sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat.
Ke depan, tim PkM berencana mendorong keberlanjutan program melalui penyusunan modul pelatihan, pembentukan kelompok belajar menganyam bagi generasi muda, pelatihan teknik lanjutan serta pendampingan inovasi desain, manajemen usaha dan pemasaran digital. Peserta yang telah menguasai keterampilan juga diharapkan dapat menjadi mentor bagi peserta berikutnya.
“Harapannya, keterampilan ini tidak berhenti sebagai kemampuan membuat kerajinan, tetapi berkembang menjadi peluang usaha sekaligus menjadi cara generasi muda menjaga warisan budaya Kalimantan Tengah,” pungkas Sri. (hen)











Comment