KALTENG, SPN – Di tengah kehidupan masyarakat Kalimantan yang kental dengan budaya dan kearifan lokal, beredar sebuah ungkapan yang cukup populer: “Kalau sudah terminum air Kalimantan, pasti betah dan sulit meninggalkan tanah ini.” Ungkapan tersebut kerap dilontarkan secara santai, namun bagi sebagian orang justru terasa nyata. Lantas, apakah ini sekadar mitos, atau ada fakta di baliknya?
Bagi para perantau yang datang ke Kalimantan baik untuk bekerja, menempuh pendidikan, maupun membuka usaha, kalimat ini sering kali terdengar sejak pertama kali menginjakkan kaki. Awalnya dianggap gurauan, tetapi seiring waktu, banyak yang justru mengakui bahwa ada “daya tarik” tersendiri yang membuat mereka enggan kembali ke kampung halaman.
Secara logika, tentu tidak ada kandungan khusus dalam air yang secara ilmiah bisa membuat seseorang jatuh cinta pada suatu daerah. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa air di Kalimantan memiliki zat tertentu yang memengaruhi psikologis manusia hingga membuat betah. Dengan demikian, jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, ungkapan tersebut lebih condong sebagai mitos.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, ungkapan “terminum air Kalimantan” bisa dimaknai sebagai simbol dari pengalaman hidup seseorang di tanah ini.
Kalimantan dikenal dengan keramahan masyarakatnya, kehidupan sosial yang relatif tenang, serta suasana alam yang masih asri. Hal-hal inilah yang secara perlahan membentuk rasa nyaman bagi para pendatang.
Banyak perantau yang awalnya hanya berniat tinggal sementara, justru akhirnya menetap hingga puluhan tahun. Mereka membangun keluarga, karier, bahkan menghabiskan masa tua di Kalimantan. Fenomena ini bukanlah hal yang langka, melainkan cerita yang berulang dari generasi ke generasi.
Seorang perantau asal Jawa, misalnya, mengaku awalnya hanya ingin bekerja selama beberapa tahun. Namun, setelah merasakan kehidupan di Kalimantan, ia justru merasa menemukan “rumah kedua”. Faktor lingkungan yang tidak terlalu padat, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta hubungan sosial yang hangat menjadi alasan utama.
Selain itu, Kalimantan juga menawarkan peluang ekonomi yang cukup menjanjikan di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, pertambangan, hingga perdagangan. Tidak sedikit perantau yang sukses secara finansial setelah merantau ke wilayah ini, sehingga semakin memperkuat alasan untuk menetap.
Budaya lokal yang terbuka terhadap pendatang juga menjadi salah satu faktor penting. Masyarakat Kalimantan dikenal mudah menerima perbedaan, sehingga para perantau tidak merasa terasing. Mereka bisa beradaptasi dengan cepat tanpa harus kehilangan identitas asalnya.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa ungkapan tersebut hanyalah bentuk romantisasi semata. Tidak semua orang merasa cocok tinggal di Kalimantan. Tantangan seperti jarak yang jauh dari kampung halaman, infrastruktur di beberapa daerah yang belum merata, serta kondisi geografis yang berbeda bisa menjadi alasan bagi sebagian orang untuk kembali.
Dengan demikian, ungkapan “terminum air Kalimantan” sejatinya bukanlah fakta ilmiah, melainkan sebuah metafora yang menggambarkan kuatnya daya tarik daerah ini bagi para perantau. Rasa betah yang muncul bukan karena air yang diminum, melainkan karena pengalaman, hubungan sosial, dan kesempatan hidup yang ditemukan.
Pada akhirnya, mitos ini tetap hidup karena dikuatkan oleh cerita-cerita nyata dari para perantau yang memilih menetap. Entah disebut mitos atau fakta, satu hal yang pasti: Kalimantan memiliki pesona tersendiri yang mampu membuat banyak orang jatuh hati dan enggan pergi. (red)














Comment