PALANGKA RAYA, SPN – Kontroversi mewarnai pelaksanaan final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat setelah keputusan dewan juri dinilai tidak konsisten dan memicu protes peserta. Video perdebatan dalam lomba tersebut viral di media sosial dan menuai sorotan publik.
Insiden itu terjadi saat sesi pertanyaan rebutan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam tayangan yang diunggah kanal YouTube MPRGOID, regu C dari SMAN 1 Pontianak lebih dulu menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan Presiden. Namun jawaban tersebut dinilai salah oleh juri sehingga tim mendapat pengurangan nilai lima poin.
Kesempatan kemudian diberikan kepada regu B dari SMAN 1 Sambas. Tim tersebut menyampaikan jawaban yang dinilai publik memiliki substansi serupa, tetapi justru memperoleh nilai penuh dari dewan juri. Keputusan itu langsung diprotes peserta dari regu C karena merasa jawaban mereka sama dengan jawaban lawan.
Dewan juri berdalih jawaban regu C tidak terdengar jelas, khususnya pada bagian penyebutan DPD. Penjelasan tersebut justru memicu kritik dari warganet yang menilai penilaian juri tidak objektif. Kolom komentar media sosial MPR RI pun dibanjiri tanggapan publik yang mempertanyakan profesionalitas pelaksanaan lomba.
MC acara pun mengatakan bahwa Juri yang hadir adalah juri yang berkompeten, dan sangat teliti, tapi ketika Video di putar ulang para nitizen pun geram karena peserta telah menyebutkan dewan perwakilan daerah.
Menanggapi polemik tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi dalam final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalbar. Ia mengakui adanya kelalaian dari panitia dan dewan juri, termasuk terkait tata suara dan mekanisme keberatan peserta.
Akbar menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlombaan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia juga meminta seluruh dewan juri ke depan lebih objektif dan responsif terhadap protes peserta selama kompetisi berlangsung.
Polemik tersebut juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat yang dikabarkan memanggil pihak SMAN 1 Pontianak guna meminta penjelasan terkait kejadian yang viral tersebut. (*/red)










Comment