JAKARTA, SPN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah, menjadi alarm serius bagi upaya perlindungan lingkungan dan kelestarian satwa liar. Api dilaporkan bergerak dari dua arah, barat dan selatan, dengan luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai puluhan ribu hektare. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap keberlangsungan habitat orangutan Kalimantan yang bergantung pada kelestarian hutan.
Keprihatinan atas bencana tersebut disampaikan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Drs. H. Mukhtarudin, Senin (12/10/2026). Ia mengajak seluruh pihak memperkuat langkah penanganan karhutla dan bergerak bersama menyelamatkan kawasan konservasi yang memiliki arti penting bagi kekayaan hayati Indonesia.
Bagi Mukhtarudin, kebakaran di Tanjung Puting bukan sekadar persoalan api yang membakar kawasan hutan. Di balik peristiwa tersebut, terdapat ancaman terhadap keseimbangan ekosistem, kelangsungan hidup satwa liar, dan warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“ Saya sangat prihatin atas karhutla yang melanda Taman Nasional Tanjung Puting. Kita berharap kebakaran segera dapat dikendalikan sehingga kerusakan tidak semakin meluas dan habitat orangutan serta satwa lainnya dapat diselamatkan. Ini membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata dari semua pihak,” ujar Mukhtarudin.
“Api Bergerak dari Dua Arah, Kawasan Konservasi Menghadapi Tekanan”
Kondisi karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting semakin memerlukan perhatian serius. Titik-titik api dilaporkan terpantau dari arah barat dan selatan, dengan pergerakan yang saling mendekati kawasan konservasi. Luas area terdampak disebut mencapai ribuan hektare, bahkan terdapat laporan yang memperkirakan angkanya hingga sekitar 54.000 hektare.
Besarnya angka tersebut menunjukkan skala persoalan yang perlu ditangani secara serius. Namun, angka luas terdampak itu tetap perlu dipastikan melalui pembaruan data resmi agar gambaran kondisi kebakaran dapat disampaikan secara akurat kepada masyarakat.
Ancaman terhadap ekosistem menjadi perhatian utama karena Tanjung Puting merupakan habitat penting bagi orangutan Kalimantan dan beragam satwa liar lainnya. Kerusakan hutan dapat mengganggu ruang hidup satwa, ketersediaan sumber pakan, serta keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan di kawasan tersebut.
Sementara itu, pusat rehabilitasi orangutan Pondok Tanggui dan Camp Leakey dilaporkan masih dalam kondisi aman. Meski demikian, situasi tersebut tidak menghilangkan kekhawatiran terhadap habitat dan ekosistem di sekelilingnya yang terdampak kebakaran.
Kondisi ini membutuhkan langkah penanganan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan agar kebakaran tidak semakin meluas serta kawasan konservasi yang tersisa dapat terlindungi.
“Relawan Kewalahan, Pemadaman Udara Terkendala Asap”
Di tengah upaya mengendalikan kebakaran, petugas dan relawan menghadapi tantangan berat. Relawan gabungan, termasuk dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia Kotawaringin Barat (HPI Kobar), dilaporkan sempat menarik diri sementara karena kewalahan menghadapi kondisi lapangan dengan peralatan yang terbatas.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena penanganan karhutla di kawasan hutan membutuhkan dukungan personel, perlengkapan, dan sarana operasional yang memadai. Keselamatan petugas maupun relawan juga harus menjadi prioritas dalam setiap upaya pemadaman.
Harapan untuk memperkuat penanganan melalui udara pun menghadapi kendala. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pelaksanaan water bombing terhambat oleh jarak pandang yang sangat rendah akibat kabut asap tebal.
Keterbatasan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla di Tanjung Puting tidak dapat dilakukan dengan mengandalkan satu pendekatan saja. Koordinasi lintas instansi, penyesuaian strategi berdasarkan kondisi lapangan, serta penguatan dukungan operasional menjadi bagian penting dari upaya mengendalikan api.
Mukhtarudin berharap pemerintah pusat dan daerah bersama seluruh unsur terkait dapat memperkuat sinergi untuk memastikan kebutuhan penanganan mendapat perhatian. Dukungan terhadap petugas dan relawan di lapangan juga dinilai penting agar upaya pemadaman dapat berlangsung secara optimal tanpa mengabaikan keselamatan mereka.
“Petugas dan relawan yang berada di lapangan membutuhkan dukungan yang memadai, terlebih ketika menghadapi medan yang sulit dan kondisi yang penuh tantangan. Kita berharap koordinasi seluruh pihak semakin kuat, langkah penanganan terus dioptimalkan, dan keselamatan mereka tetap menjadi prioritas,” ungkapnya.
“Selamatkan Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan”
Mukhtarudin menegaskan pentingnya menjadikan peristiwa karhutla di Tanjung Puting sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, upaya penyelamatan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan, tetapi harus dilanjutkan melalui perlindungan kawasan hutan dan pencegahan kebakaran secara konsisten.
Orangutan Kalimantan merupakan bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia. Kelangsungan hidupnya berkaitan erat dengan kondisi hutan sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Karena itu, menjaga habitatnya berarti turut mempertahankan keseimbangan ekosistem yang lebih luas.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api, serta segera melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan karhutla. Sementara itu, penanganan kebakaran yang telah terjadi membutuhkan kerja bersama, respons yang tepat, dan dukungan nyata dari seluruh pemangku kepentingan.
“Saya berharap seluruh upaya pemadaman diberikan kelancaran, para petugas dan relawan senantiasa mendapat perlindungan, serta kebakaran segera dapat dikendalikan. Mari kita bersama-sama mengambil bagian untuk menyelamatkan Tanjung Puting. Hutan ini bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga warisan yang harus tetap terjaga bagi generasi mendatang,” tutur Mukhtarudin.
Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi pengingat bahwa kehilangan kawasan hutan bukan hanya persoalan berkurangnya tutupan hijau, melainkan juga menyangkut keberlangsungan habitat dan keseimbangan alam. Penguatan penanganan, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen menjaga lingkungan menjadi langkah penting untuk melindungi kekayaan hayati Kalimantan Tengah agar tetap lestari. (red)











Comment