PALANGKA RAYA, SPN – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah membutuhkan kerja sama berbagai pihak, tidak hanya dalam pemadaman di lapangan, tetapi juga dalam membangun kesadaran masyarakat. Hal ini menjadi salah satu perhatian Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, S.A.P., M.Sc., saat bertemu dengan sejumlah awak media di Kota Palangka Raya, Minggu (11/10/2026).
Dalam kegiatan ramah tamah yang berlangsung di Coffee 99 tersebut, Pangdam menyoroti pentingnya penyampaian informasi kepada masyarakat agar praktik pembakaran hutan dan lahan dapat dihentikan. Ia berharap media menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan pesan pencegahan sekaligus memberikan pemahaman mengenai perkembangan penanganan karhutla.
Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Selain menjadi sarana mempererat hubungan antara TNI dan insan pers, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas kondisi terkini karhutla serta langkah-langkah yang tengah dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.
Pangdam menjelaskan, berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan dampak kebakaran. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang diharapkan dapat membantu mendatangkan hujan. Selain itu, satu unit helikopter water bombing telah disiagakan di Kabupaten Pulang Pisau untuk mendukung percepatan pemadaman.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa langkah teknis di lapangan harus dibarengi dengan pencegahan dari sumbernya. Masyarakat diharapkan tidak membuka atau mengelola lahan dengan cara membakar karena berpotensi memperluas kebakaran dan memperburuk kondisi udara.
Kondisi angin yang hanya berkisar dua knot turut menjadi tantangan tersendiri. Pergerakan udara yang lambat menyebabkan asap tidak mudah tersebar sehingga terkumpul di suatu wilayah dan membuat kabut asap terlihat semakin pekat.
Karena itu, Pangdam mengajak awak media untuk terus mengingatkan masyarakat mengenai larangan pembakaran lahan serta pentingnya menjaga lingkungan. Penyampaian informasi yang konsisten dinilai dapat membantu meningkatkan kepedulian publik terhadap upaya pencegahan karhutla.
“Perkuat Personel dan Kembangkan Peralatan Pengeboran”
Di sektor penanganan lapangan, Pangdam memastikan prajurit TNI tetap menjalankan tugas dengan semangat. Keberadaan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yon TP) turut memperkuat dukungan personel dalam kegiatan pemadaman dan penanganan dampak kebakaran.
Personel dibagi dalam sejumlah kelompok kerja, antara lain tim pengeboran, tim pemadaman, dan tim pendinginan. Pembagian tugas tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan di lokasi yang memiliki karakteristik serta tingkat kesulitan berbeda.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah terbatasnya sumber air di sejumlah kawasan, khususnya lahan yang jauh dari akses air. Untuk menjawab persoalan tersebut, Kodam XXII/TB mengembangkan peralatan bor manual dan mekanis yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Pangdam menjelaskan, peralatan bor manual dirancang agar mudah dipindahkan ke lokasi lain. Sementara itu, alat bor mekanis yang dikembangkan Kodam disebut mampu mencapai kedalaman hingga 100 meter dan dipersiapkan untuk membantu mengatasi persoalan kekeringan di sejumlah daerah, termasuk Buntok, Muara Teweh, dan Katingan.
Personel juga dilatih untuk merakit peralatan tersebut sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Pangdam berharap inovasi itu tidak hanya mendukung tugas TNI, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat yang memerlukan solusi untuk memperoleh sumber air.
Selain penanganan kebakaran dan kekeringan, Kodam XXII/TB menyatakan kesiapan mendukung pengelolaan serta pembukaan lahan secara tertib sesuai ketentuan. Upaya ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan lahan yang lebih baik tanpa mengabaikan pencegahan kebakaran.
“Media Diharapkan Sajikan Informasi yang Membangun”
Di tengah kondisi kabut asap yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat, Pangdam juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam pemberitaan. Informasi mengenai kondisi lapangan perlu disampaikan secara faktual, tetapi perkembangan positif dan berbagai upaya penanganan juga patut mendapat perhatian.
Menurutnya, pemberitaan yang terus-menerus menonjolkan situasi buruk tanpa diimbangi informasi mengenai langkah penanganan dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Apalagi, kabut asap telah mengganggu kenyamanan warga dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak.
Pangdam turut menyampaikan bahwa titik api dilaporkan mulai berkurang. Namun, lemahnya pergerakan angin menyebabkan asap masih bertahan di sejumlah kawasan sehingga kondisi udara belum sepenuhnya membaik.
Ia berharap media dapat terus menjalankan fungsi informasinya secara profesional, sekaligus memperkuat edukasi mengenai bahaya pembakaran lahan dan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah karhutla.
Melalui ramah tamah tersebut, Kodam XXII/Tambun Bungai dan insan pers diharapkan semakin solid dalam membangun komunikasi serta menyebarluaskan informasi yang bermanfaat bagi publik.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong penanganan karhutla yang lebih efektif, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan mempercepat pemulihan kondisi udara di Kalimantan Tengah. (red)











Comment