PALANGKA RAYA, SPN – Menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi perhatian di Kalimantan Tengah, Direktur Utama PT Manunggal Karya Laksana, Ir. Harry Laksono, ST., MT., mengajak bersama-sama untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap serta menjadikan kesehatan dan keselamatan keluarga sebagai prioritas utama.
Menurut pria yang akrab disapa Harry ini, kondisi kabut asap membutuhkan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat. Upaya menjaga kesehatan perlu dilakukan secara konsisten, terutama ketika aktivitas sehari-hari berpotensi meningkatkan paparan asap yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Ia mengingatkan agar tidak memaksakan diri beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Langkah pencegahan, kepedulian terhadap anggota keluarga, serta kepatuhan terhadap imbauan petugas dan tenaga kesehatan menjadi hal penting untuk mengurangi risiko kesehatan.
“Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian kita bersama. Saya mengajak seluruh warga untuk tetap waspada, menjaga keluarga, dan tidak menganggap remeh dampak kabut asap. Semoga masyarakat Kalimantan Tengah senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menghadapi situasi ini,” ujar Harry Laksono, Kamis (15/10/2026).
“Doakan Petugas dan Relawan, Harapkan Karhutla Segera Terkendali”
Di balik upaya penanganan karhutla, Harry turut memberikan perhatian kepada tim gabungan dan para relawan yang bekerja di lapangan untuk mengendalikan kebakaran dan melindungi masyarakat dari dampaknya.
Ia mengajak bersama-sama untuk mengiringi perjuangan para petugas dengan doa serta dukungan moral. Menurutnya, keselamatan personel yang bertugas juga perlu menjadi perhatian bersama, mengingat penanganan kebakaran berlangsung di tengah kondisi lingkungan yang menantang.
Harry juga menyampaikan harapannya agar hujan segera turun di wilayah Kalimantan Tengah sehingga dapat membantu proses pemadaman, mengurangi kepulan asap, dan mempercepat pemulihan kondisi lingkungan.
“Kita berharap seluruh tim gabungan dan relawan yang bertugas selalu diberikan perlindungan, kesehatan, dan keselamatan. Mari kita bersama-sama mendoakan agar upaya pemadaman berjalan lancar dan hujan segera turun, sehingga kondisi di Kalimantan Tengah berangsur membaik,” ungkapnya.
“Langkah Pencegahan Dimulai dari Kesadaran Bersama”
Harry Laksono menekankan, bahwa perlindungan masyarakat dari dampak karhutla tidak hanya bergantung pada penanganan kebakaran, tetapi juga pada kesadaran setiap individu untuk mengurangi risiko paparan asap dan menjaga lingkungan.
Ia mengimbau warga menggunakan masker yang sesuai saat harus berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas luar rumah yang tidak mendesak ketika kualitas udara memburuk, serta memastikan anak-anak dan lansia mendapat perlindungan lebih dari paparan asap.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan. Apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya, warga diharapkan segera mencari pertolongan tenaga kesehatan, terutama jika keluhan semakin berat.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mencegah munculnya kebakaran baru dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun tindakan lain yang berpotensi memperparah karhutla.
Bagi Harry, kepedulian terhadap persoalan ini perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga kesehatan keluarga, mengingatkan lingkungan sekitar, hingga mendukung upaya penanganan karhutla sesuai kemampuan dan kebutuhan di lapangan.
“Dalam menghadapi kondisi seperti ini, kita perlu saling menguatkan dan menjaga kepedulian. Tetaplah waspada, lindungi keluarga, dan jangan lupa mendoakan para petugas serta relawan. Kita semua berharap karhutla segera terkendali, hujan turun, dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan lebih aman,” tutup Ir. Harry Laksono.
Ia berharap, sinergi pemerintah, petugas, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat agar penanganan karhutla berjalan optimal. Dengan kewaspadaan, kepedulian, dan komitmen bersama untuk mencegah kebakaran, dampak kabut asap di Kalimantan Tengah diharapkan dapat segera berkurang. (red)











Comment