PALANGKA RAYA,SPN– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di Kalimantan Tengah (Kalteng) . Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) terus memaksimalkan upaya pemantauan, pemadaman, pembasahan hingga pendinginan di sejumlah wilayah yang masih ditemukan titik api.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga 11 Agustus 2026 tercatat sebanyak 645 titik panas atau hotspot tersebar di wilayah Kalimantan Tengah.
Konsentrasi hotspot tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 189 titik, disusul Kabupaten Kapuas sebanyak 114 titik. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah Kalteng masih mengalami kondisi lahan yang relatif kering dengan potensi hujan rendah hingga sedang.
Selain pemantauan darat, penanganan karhutla juga diperkuat melalui operasi udara. Satgas melakukan pemantauan terhadap 514 hotspot dan patroli di 125 titik.
Operasi water bombing juga dilakukan di wilayah Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun. Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan penyemaian sekitar 1.000 kilogram garam guna membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Puluhan Kejadian Karhutla Masih Ditangani
BPBD Provinsi Kalteng melalui Pusdalops-PB terus melakukan konsolidasi dan verifikasi terhadap laporan kejadian karhutla dari seluruh kabupaten dan kota.
Dalam rekapitulasi periode 10–11 Agustus 2026, tercatat 55 kejadian karhutla dengan luas mencapai 99,481 hektare. Sementara pembaruan data pada 11 Agustus mencatat 43 kejadian di tujuh wilayah dan masih terus diperbarui berdasarkan laporan serta hasil verifikasi di lapangan.
Sejumlah lokasi masih menjadi fokus penanganan tim gabungan. Di Kota Palangka Raya, misalnya, penanganan dilakukan di sejumlah kawasan Jekan Raya dan Bukit Tunggal.
Karhutla di Jalan Tegal Sari tercatat mencapai sekitar 4,29 hektare, dengan sebagian lahan telah berhasil dipadamkan. Petugas masih melakukan pemadaman, penyekatan serta pendinginan untuk memastikan api tidak kembali muncul.
Penanganan juga dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Katingan dan Pulang Pisau.
Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam proses pemadaman karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pembasahan serta pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Asap Mulai Pengaruhi Sejumlah Wilayah
Pergerakan asap akibat karhutla terpantau menuju arah barat laut. Kondisi berkabut asap mulai terjadi di wilayah Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 5–7 kilometer.
Sementara itu, kondisi di Palangka Raya, Pangkalan Bun dan Sampit relatif cerah dengan jarak pandang sekitar 9–10 kilometer.
Kualitas udara juga menunjukkan kondisi yang berbeda-beda. Katingan dan Barito Selatan tercatat berada pada kategori Tidak Sehat, sementara sejumlah wilayah lainnya masuk kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif.
Kotawaringin Barat tercatat berada dalam kategori Baik dengan nilai ISPU 21.
Untuk memperkuat pemantauan, BPBD juga memanfaatkan sistem pemantauan digital melalui 28 kamera yang ditempatkan di 12 titik pada empat kabupaten. Hingga pukul 13.00 WIB, terpantau tiga titik kepulan asap di wilayah Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kasus ISPA Capai 2.052
Dampak karhutla dan kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 2.052 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 7–11 Agustus 2026 di 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah.
Pada 11 Agustus saja tercatat 600 kasus baru, dengan sembilan pasien menjalani rawat inap. Kasus tertinggi tercatat di Palangka Raya sebanyak 115 kasus dan Kotawaringin Barat sebanyak 111 kasus. Jumlah tersebut meningkat 39,2 persen dibandingkan 7 Agustus.
Dinas Kesehatan Provinsi bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota terus melakukan pemantauan, pelayanan kesehatan, edukasi masyarakat, pembagian masker, pemantauan kesehatan petugas serta penyaluran masker dan oxygen portable.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api maupun kepulan asap agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin.
Tim gabungan akan terus mengintensifkan pemantauan, patroli, pemadaman, penyekatan, pembasahan dan pendinginan sesuai kondisi lapangan serta perkembangan cuaca.
Upaya tersebut dilakukan untuk menekan meluasnya karhutla sekaligus melindungi masyarakat, permukiman dan lingkungan di Kalimantan Tengah.(red)











Comment