PALANGKA RAYA, SPN – Ketahanan nasional tidak semata-mata dibangun melalui kekuatan pertahanan, keamanan, maupun kebijakan strategis negara. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, menjaga identitas budaya serta nilai-nilai kebangsaan juga menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi bangsa.
Perspektif tersebut tercermin dari kehadiran Dr. Ir. Desivera Tri Rahayu, S.T., M.T., delegasi Kalimantan Tengah dari Universitas Palangka Raya (UPR), dalam Training of Trainers (ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Angkatan 41 yang berlangsung pada 7–15 September 2026.
Dalam forum tersebut, Desivera membawa identitas budaya Kalimantan Tengah melalui Kebaya Batang Garing. Pilihan busana itu bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi dapat dimaknai sebagai upaya menghadirkan kearifan lokal ke dalam ruang pembahasan kebangsaan.
Batang Garing sendiri dikenal sebagai salah satu simbol penting dalam kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah. Filosofinya yang berkaitan dengan Pohon Kehidupan mengandung makna tentang kehidupan, keseimbangan, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, simbol budaya seperti Batang Garing memiliki relevansi yang lebih luas. Kemajuan teknologi digital telah membuka ruang interaksi tanpa batas. Informasi, budaya, gaya hidup dan berbagai gagasan dari seluruh dunia dapat hadir dalam kehidupan masyarakat hanya melalui layar.
Kondisi ini tentu membawa banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan terhadap keberlangsungan identitas budaya dan karakter kebangsaan.
Karena itu, menjaga budaya lokal tidak semestinya dipandang sebagai upaya untuk kembali ke masa lalu. Sebaliknya, budaya dapat menjadi fondasi untuk menghadapi masa depan.
Kearifan lokal yang memiliki nilai filosofis dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter, terutama bagi generasi muda. Nilai tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui pendidikan, ruang sosial, hingga platform digital yang saat ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Dalam konteks itulah, kehadiran unsur budaya Kalimantan Tengah dalam forum Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan menjadi sesuatu yang menarik. Identitas lokal dibawa ke dalam ruang nasional, menunjukkan bahwa keberagaman budaya bukan penghalang bagi persatuan, melainkan salah satu kekuatan Indonesia.
Desivera menempatkan gagasan tersebut dalam visi untuk ikut membangun ketahanan nasional yang tangguh. Ketahanan nasional, dalam pandangan yang lebih luas, tidak hanya berbicara mengenai kemampuan negara menghadapi ancaman fisik, tetapi juga kemampuan masyarakat mempertahankan nilai, karakter, persatuan dan identitas bangsa.
Terlebih di era disrupsi teknologi siber, ruang digital telah menjadi bagian penting dalam membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, nilai-nilai kebangsaan juga harus mampu hadir di ruang tersebut.
Upaya menjaga empat konsensus dasar bangsa—Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika—tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan formal. Nilai-nilai tersebut perlu terus dikomunikasikan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Salah satunya melalui edukasi di ruang digital.
Desivera juga mendorong implementasi misi tersebut melalui gerakan edukasi taktis di empat Grup Digital Pancasila. Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan kebangsaan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi, bukan justru menjadikan perkembangan digital sebagai ancaman semata.
Pada akhirnya, Kebaya Batang Garing yang dibawa dalam forum kebangsaan tersebut menyampaikan pesan yang sederhana tetapi penting: menjadi modern tidak berarti harus kehilangan akar budaya. Kalimantan Tengah memiliki kekayaan budaya dan filosofi yang dapat menjadi bagian dari narasi Indonesia di tingkat nasional.
Tantangannya adalah bagaimana warisan tersebut tidak berhenti sebagai simbol, tetapi diterjemahkan menjadi nilai yang hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Sebab, ketahanan nasional yang kuat tidak hanya membutuhkan masyarakat yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga masyarakat yang mengetahui siapa dirinya, memahami akar budayanya, serta memiliki komitmen terhadap persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.
Dari Kalimantan Tengah, kearifan Batang Garing pun dapat ditempatkan bukan sekadar sebagai warisan budaya, melainkan sebagai bagian dari pesan kebangsaan: berakar kuat pada budaya, terbuka menghadapi perubahan, dan tetap teguh menjaga Indonesia. (red)











Comment