PALANGKA RAYA, SPN – Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Palangka Raya, Bush Valentino Lambung, SH., menegaskan bahwa upaya menyelesaikan persoalan melalui perdamaian tidak boleh mengabaikan keadilan, merendahkan martabat korban, ataupun menjadi alasan untuk menutupi kesalahan pelaku perundungan (bullying).
Menurut Bush Valentino, perdamaian merupakan jalan kemanusiaan yang perlu dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan. Namun, proses tersebut harus tetap menjunjung tinggi kebenaran, tanggung jawab, serta perlindungan terhadap korban.
Ia menekankan, penyelesaian secara damai tidak seharusnya menempatkan korban dalam posisi yang kembali dirugikan, terlebih jika perdamaian justru digunakan untuk menekan korban agar mengalah atau memaafkan tanpa adanya pengakuan atas kesalahan yang telah terjadi.
“Perdamaian adalah jalan kemanusiaan, bukan alat untuk membungkam korban dan menutupi kesalahan,” pesan Bush Valentino, Senin (19/10/2026).
Ia berpandangan, setiap persoalan pada dasarnya dapat diupayakan penyelesaiannya secara baik dan bermartabat. Kendati demikian, proses tersebut harus dibangun di atas kesadaran untuk mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, serta memastikan hak dan kondisi korban tetap menjadi perhatian utama.
Dalam kasus perundungan yang menjadi perhatian publik, Bush mengingatkan bahwa pelaku harus berani mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Permintaan maaf dan kesepakatan damai semestinya menjadi bagian dari proses perbaikan, bukan sekadar formalitas untuk menghentikan sorotan masyarakat.
Menurutnya, memaafkan tidak berarti menghapus tanggung jawab. Demikian pula, berdamai bukan berarti korban harus menerima seluruh keadaan tanpa memperoleh perlindungan, pemulihan, maupun kejelasan atas persoalan yang dialaminya.
“Pendidikan Karakter Dimulai dari Lingkungan Terdekat”
Lebih jauh, Bush Valentino menilai pencegahan perundungan perlu dilakukan secara bersama-sama melalui pendidikan karakter sejak dini. Keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menanamkan nilai penghormatan, empati, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Anak-anak perlu dibimbing untuk memahami bahwa setiap orang memiliki martabat yang harus dihormati. Perbedaan latar belakang, kondisi fisik, budaya, maupun karakter tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penghinaan, intimidasi, atau tindakan yang menyakiti orang lain.
Pendidikan karakter juga harus disertai keteladanan orang dewasa dalam menyelesaikan konflik secara sehat. Sikap saling menghargai, keberanian mengakui kesalahan, dan kesediaan memperbaiki perilaku menjadi nilai penting yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, korban perundungan harus memperoleh ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman dan mendapatkan pendampingan. Lingkungan sekitar tidak semestinya menyalahkan korban, meremehkan dampak yang dialami, ataupun memaksakan perdamaian tanpa mempertimbangkan kepentingan dan keselamatannya.
“Tegakkan Tanggung Jawab, Utamakan Perlindungan”
Bush Valentino juga menekankan pentingnya penanganan perundungan yang mengedepankan perlindungan korban sekaligus pertanggungjawaban pelaku. Apabila suatu peristiwa mengandung unsur pelanggaran hukum, penanganannya perlu diserahkan kepada pihak berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, penyelesaian secara kekeluargaan tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk mengabaikan dugaan pelanggaran atau menghalangi proses hukum yang semestinya berjalan.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada kecaman ketika kasus perundungan menjadi viral. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran kolektif agar tindakan serupa tidak terulang, korban mendapatkan dukungan yang layak, dan setiap orang memahami konsekuensi dari perilakunya.
Bagi Bush Valentino, masa depan generasi muda harus dijaga melalui lingkungan yang aman, mendidik, dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian yang sesungguhnya bukan hanya tentang mengakhiri perselisihan, melainkan juga memastikan adanya keadilan, tanggung jawab, dan pemulihan bagi pihak yang terdampak.
“Berdamai bukan berarti korban harus mengalah. Memaafkan juga bukan berarti kesalahan pelaku dianggap tidak pernah terjadi,” menjadi pesan penting yang perlu dipahami bersama dalam membangun budaya antiperundungan.
Melalui semangat kebersamaan, Bush berharap keluarga, institusi pendidikan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat upaya pencegahan perundungan demi mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi anak-anak Indonesia.
“Sebab, anak-anak bukan hanya bagian dari kehidupan hari ini, melainkan juga masa depan bangsa yang harus dijaga bersama,” pungkasnya. (red)











Comment