PALANGKA RAYA, SPN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, menimbulkan keprihatinan berbagai kalangan. Selain menghanguskan ribuan hektare lahan, bencana ini juga berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, kelestarian satwa liar, hingga keseimbangan ekosistem yang selama ini menjadi penopang kehidupan di Bumi Tambun Bungai.
Di tengah kondisi tersebut, PT. Manunggal Karya Laksana (MKL) menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi yang terjadi. MKL menilai Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Kalimantan.
Owner PT. Manunggal Karya Laksana, Ir. Harry Laksono, ST., MT., mengatakan bahwa setiap kali Karhutla terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kawasan yang terbakar, tetapi juga oleh masyarakat luas yang harus menghadapi kabut asap dan berbagai konsekuensi lainnya.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini. Karhutla bukan hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga keberlangsungan habitat satwa liar yang menjadi kekayaan alam Kalimantan,” ujar Harry Laksono,” Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, hutan Kalimantan memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai paru-paru dunia, tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat yang bergantung pada keberlanjutan lingkungan.
Ia menegaskan, kebakaran yang terus berulang dari tahun ke tahun harus menjadi perhatian bersama. Sebab, kerusakan yang ditimbulkan tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat dan membutuhkan upaya besar untuk mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula.
“Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Kita kehilangan habitat satwa, keanekaragaman hayati, sumber mata pencaharian masyarakat, bahkan kualitas hidup generasi mendatang. Karena itu, menjaga hutan adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Karhutla yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Tengah dalam beberapa pekan terakhir juga memaksa pemerintah bersama aparat gabungan meningkatkan upaya penanganan melalui patroli darat, pemadaman titik api, hingga operasi udara. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran yang berpotensi menimbulkan dampak lebih besar terhadap masyarakat dan lingkungan.
Selain kerusakan ekologis, kabut asap akibat Karhutla kerap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Di sisi lain, aktivitas masyarakat, transportasi, hingga kegiatan pendidikan juga sering kali terganggu ketika intensitas asap semakin pekat.
Harry Laksono juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penanganan Karhutla, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat yang turut membantu di lapangan.
“Kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh petugas dan relawan yang terus bekerja tanpa mengenal lelah dalam menangani Karhutla. Mereka berada di garis terdepan untuk melindungi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan Kalimantan,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia berharap momentum ini dapat meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran sejak dini. Menurutnya, upaya pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk mengurangi risiko Karhutla yang terus berulang setiap musim kemarau.
“Kalimantan adalah rumah kita bersama. Apa yang terjadi hari ini akan menentukan masa depan lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Mari kita jaga hutan, lindungi alam, dan bersama-sama berperan dalam mencegah terjadinya Karhutla,” pungkasnya.
Keprihatinan yang disampaikan PT. Manunggal Karya Laksana menjadi pengingat bahwa Karhutla bukan hanya bencana lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi seluruh pihak, diharapkan Kalimantan dapat terhindar dari kerusakan yang lebih luas dan tetap menjadi rumah bagi keberagaman hayati serta sumber kehidupan bagi masyarakatnya. (red)











Comment